RRT pasar terbesar dunia dengan
penjualan tahun 2014 yang lalu 23,49 juta unit, yang
meningkat 6,9 persen dari tahun sebelumnya, ternyata memiliki kapasitas
berlebih 16 juta unit, serta tingkat utilitas produksi dibawah 60 % (Fourin
Juli 2015). Situasi RRT berpeluang
mengancam pasar domestik. Indonesia pun terjepit oleh India dan
Thailand, dua negara produsen besar yang pasar sedang menurun, sehingga
kapasitas lebih di kawasan regional cukup menghawatirkan, sementara pasar
Indonesia sedang menurun terkena krisis. ASEAN adalah pasar ke-5 terbesar
dunia, dan Indonesialah terprospektif, karena hanya Vietnam yang bertumbuh
namun pasarnya kecil. Indonesia akan menjadi ajang pertempuran penjualan produk
otomotif kawasan ke depan.
Tantangan pada situasi seperti ini
serta pasar yang semakin menuntut, adalah meningkatkan kemampuan R&D
dan inovasi desain kendaraan utuh ataupun komponen dengan
mengadopsi teknologi mutakhir. Demikian pula
tantangan terhadap ketergantungan pada material dan komponen impor,
peningkatan tingkat produktivitas, peningkatan kompetensi industri dan tenaga
kerja harus dapat segera diatasi. Ketergantungan tersebut serta efek pelemahan Rupiah pastinya
memperlambat kesiapan industri terutama
komponen.
Sementara industri komponen lokal
mulai kelimpungan tersaingi industri kecil-menengah asing yang masuk.
Investasi harus disyukuri, namun
kemampuan nasional di bidang komponen yang dibangun puluhan tahun ternyata
perlahan-lahan terancam eksistensinya.
Berbagai negara sadar bahwa industri
otomotif penting dikembangkan karena efek gandanya yang besar dalam peningkatan
nilai tambah serta upgrading
teknologi. Malaysia walaupun hanya berpenduduk sekitar 17 juta menggulirkan
Program Mobil Nasional. Thailand, “Detroit Asia” mulai membangun industri
otomotifnya pada saat populasi sekitar 45 juta tahun 80’an, saat ini ia telah
mampu berproduksi di tahun terbaiknya 2013
sebanyak 2.457.000 unit, dan
mengekspor 1.121.000 mobil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar