Pada 10 tahun terakhir ekonomi
Indonesia mengalami pertumbuhan tertinggi di tahun 2011 yaitu mencapai 6,2%
dimana juga dinikmati industri manufaktur sebesar 6,7%. Pertumbuhan setelah itu
menurun hanya mencapai 4,79% dan industri 5,04% pada 2015. Rata-rata dalam 10
tahun tercatat pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 5,7% dan industri 5%.
Rendahnya pertumbuhan industri menurunkan peran industri manufaktur terhadap
PDB yang pada tahun 2009 pernah mencapai 29% dan kini tinggal 22%.
Ekspor produk manufaktur pada periode
yang sama ternyata juga semakin menurun, di sisi lain impor terus meningkat
walaupun pemerintah menganggap impor barang modal dan bahan baku/komponen
memperkuat kapasitas nasional dengan mengenyampingkan faktor external balance. Defisit neraca
perdagangan industri manufaktur mencapai puncaknya sebesar USD 23 Milyar pada
2012, walau berkurang menjadi USD 6,4 Milyar pada 2014
karena turunnya impor. Pelemahan industri manufaktur yang telah menahun perlu
disikapi secara serius. Studi McKinsey (2012) mengungkapkan bahwa untuk
mencegah fenomena Middle-Income Trap, peran sektor manufaktur suatu negara
terhadap perekonomiannya harus mencapai sekitar 40%. Karena sektor ini adalah
penggerak peningkatan nilai tambah, teknologi serta penciptaan lapangan kerja
yang mampu membawa suatu negara ke jenjang tingkat perekonomian dan tingkat
kemakmuran yang lebih tinggi. Atas hal ini Persatuan Insinyur Indonesia merasa
terpanggil untuk turut serta memikirkan langkah-langkah yang bisa disumbangkan
untuk memperkuat sektor ini.
Turunnya peran sektor industri tidak terlepas dari melemahnya faktor
pendukung daya saing industri secara nasional. Meskipun daya saing Indonesia
menurut Global Competitiveness Index terakhir naik ke peringkat 34, namun dari 13 faktor yang diukur, terdapat 4 faktor
yang mengalami penurunan, dan yang paling mencemaskan adalah faktor Labor Market Efficiency. Faktor ini 5
tahun lalu menduduki posisi 43 ternyata menjadi posisi 110 pada 2014, terbawah
dibanding negara ASEAN lainnya. Yang paling terkena dampaknya adalah industri
padat karya seperti tekstil dan alas kaki. Investasi industri padat karya terus
turun yang ditandai semakin berkurangnya pemain serta stagnannya ekspor tekstil
Indonesia yang tahun 2014 hanya mampu mencapai USD 12,7 Milyar jauh dibawah
Bangladesh USD 21,5 Milyar dan Vietnam USD 24,5 Milyar. Lemahnya daya saing
Indonesia tidak terlepas dari masih rendahnya penguasaan teknologi. Statistik
produksi, menurut pengelompokan OECD, menunjukan 66% teknologi dalam
produksi di industri merupakan teknologi rendah dan menengah-rendah.
Berbagai faktor yang diuraikan menjadi
beban bagi industri, terlebih lagi disertai kenaikan upah yang tidak bisa
diprediksi, kenaikan tarif listrik, keterbatasan pasokan gas, penguatan kurs
dolar, tingginya impor bahan baku dan komponen, semuanya mengerek biaya
produksi dan berdampak pada penurunan daya saing.
Kondisi ekonomi dunia belakangan ini
juga kurang bersahabat bagi perkembangan industri manufaktur Indonesia
khususnya melemahnya pertumbuhan ekonomi pasar utama ekspor Indonesia,
terjadinya gejolak politik di beberapa belahan dunia, serta derasnya arus
liberalisasi perdagangan di dunia. Pasar negara berkembang saat ini dipaksa
untuk terbuka walau negara maju masih protektif, khususnya untuk produk
pertanian. Keterbukaan pasar Indonesia menjadi salah satu keluhan calon
investor yang membutuhkan perlindungan pada awal investasi.
Besarnya jumlah penduduk Indonesia
adalah pasar potensial bagi berkembangnya industri manufaktur. Namun masyarakat
Indonesia belum cukup menghargai dan merasa bangga akan produk buatan
bangsanya. Potensi besar ini masih belum bisa didayagunakan sepenuhnya sebagai
faktor pendorong pertumbuhan industri. Adalah sangat sulit menjual
produk-produk buatan dalam negeri ke luar negeri terutama barang modal jika
bangsa kita sendiri tidak mau menggunakannya. Besarnya pasar dalam negeri
bahkan kurang efektif karena banyaknya barang yang diduga diselundupkan.
Saat ini revolusi industri baru telah
terjadi dimana wajah persaingan industri global ditentukan oleh faktor kemajuan
teknologi dan inovasi sebagai penentu daya saing. Pergeseran ke arah product customization, intelligent product design, nano technology, composite, dan biological
materials, aplikasi teknologi komunikasi dan informasi terbaru pada desain
produk industri. Revolusi memperlebar jarak industri Indonesia terhadap negara
industri.
Untuk memperkuat struktur dalam tahap
pertama harus didorong industri yang mengakar di dalam negeri, berperan besar
dalam perekonomian dan penyediaan lapangan kerja, dan mampu mengurangi
ketergantungan impor. Dari sisi produk perlu secara ofensif didorong ekspor
produk TPT, alas kaki, furnitur, industri makanan, produk agro, CPO dan
turunannya, serta produk otomotif dan komponen. Sedangkan yang perlu
dipertahankan pasar dalam negerinya meliputi industri kimia, baja, elektronika,
agro, makanan dan minuman tertentu, dan farmasi. Tahap selanjutnya perlu
ditumbuhkan industri berbasis inovasi seperti pemanfaatan rare earth, kesehatan, material baru, dan energi terbarukan.
Sebagai wahana pelaksanaannya, Technopreneurship,
sistem insentif, dan spirit Indonesianisme perlu ditumbuhkan.
Industri Otomotif yang sudah berdiri
lebih dari 40 tahun di negeri ini perlu didorong sebagai salah satu tiang
penunjang perkembangan industri manufaktur. PII dapat berperan banyak dalam
pengembangan kemampuan teknologi dan sumber daya tenaga kerja industrial,
terutama dalam membangun kemampuan dan penguasaan teknologi serta R&D
industri, meningkatkan produktivitas dan kompetensi tenaga kerja industrial.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar