Minggu, 26 Februari 2017

Perkembangan Industri Manufaktur



Pada 10 tahun terakhir ekonomi Indonesia mengalami pertumbuhan tertinggi di tahun 2011 yaitu mencapai 6,2% dimana juga dinikmati industri manufaktur sebesar 6,7%. Pertumbuhan setelah itu menurun hanya mencapai 4,79% dan industri 5,04% pada 2015. Rata-rata dalam 10 tahun tercatat pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 5,7% dan industri 5%. Rendahnya pertumbuhan industri menurunkan peran industri manufaktur terhadap PDB yang pada tahun 2009 pernah mencapai 29% dan kini tinggal 22%.
Ekspor produk manufaktur pada periode yang sama ternyata juga semakin menurun, di sisi lain impor terus meningkat walaupun pemerintah menganggap impor barang modal dan bahan baku/komponen memperkuat kapasitas nasional dengan mengenyampingkan faktor external balance. Defisit neraca perdagangan industri manufaktur mencapai puncaknya sebesar USD 23 Milyar pada 2012, walau berkurang menjadi USD 6,4 Milyar pada 2014 karena turunnya impor. Pelemahan industri manufaktur yang telah menahun perlu disikapi secara serius. Studi McKinsey (2012) mengungkapkan bahwa untuk mencegah fenomena Middle-Income Trap, peran sektor manufaktur suatu negara terhadap perekonomiannya harus mencapai sekitar 40%. Karena sektor ini adalah penggerak peningkatan nilai tambah, teknologi serta penciptaan lapangan kerja yang mampu membawa suatu negara ke jenjang tingkat perekonomian dan tingkat kemakmuran yang lebih tinggi. Atas hal ini Persatuan Insinyur Indonesia merasa terpanggil untuk turut serta memikirkan langkah-langkah yang bisa disumbangkan untuk memperkuat sektor ini. 
Turunnya peran sektor industri tidak terlepas dari melemahnya faktor pendukung daya saing industri secara nasional. Meskipun daya saing Indonesia menurut Global Competitiveness Index terakhir naik ke peringkat 34, namun  dari 13 faktor yang diukur, terdapat 4 faktor yang mengalami penurunan, dan yang paling mencemaskan adalah faktor Labor Market Efficiency. Faktor ini 5 tahun lalu menduduki posisi 43 ternyata menjadi posisi 110 pada 2014, terbawah dibanding negara ASEAN lainnya. Yang paling terkena dampaknya adalah industri padat karya seperti tekstil dan alas kaki. Investasi industri padat karya terus turun yang ditandai semakin berkurangnya pemain serta stagnannya ekspor tekstil Indonesia yang tahun 2014 hanya mampu mencapai USD 12,7 Milyar jauh dibawah Bangladesh USD 21,5 Milyar dan Vietnam USD 24,5 Milyar. Lemahnya daya saing Indonesia tidak terlepas dari masih rendahnya penguasaan teknologi. Statistik produksi, menurut pengelompokan OECD, menunjukan 66% teknologi dalam produksi di industri merupakan teknologi rendah dan menengah-rendah.
Berbagai faktor yang diuraikan menjadi beban bagi industri, terlebih lagi disertai kenaikan upah yang tidak bisa diprediksi, kenaikan tarif listrik, keterbatasan pasokan gas, penguatan kurs dolar, tingginya impor bahan baku dan komponen, semuanya mengerek biaya produksi dan berdampak pada penurunan daya saing.
Kondisi ekonomi dunia belakangan ini juga kurang bersahabat bagi perkembangan industri manufaktur Indonesia khususnya melemahnya pertumbuhan ekonomi pasar utama ekspor Indonesia, terjadinya gejolak politik di beberapa belahan dunia, serta derasnya arus liberalisasi perdagangan di dunia. Pasar negara berkembang saat ini dipaksa untuk terbuka walau negara maju masih protektif, khususnya untuk produk pertanian. Keterbukaan pasar Indonesia menjadi salah satu keluhan calon investor yang membutuhkan perlindungan pada awal investasi.
Besarnya jumlah penduduk Indonesia adalah pasar potensial bagi berkembangnya industri manufaktur. Namun masyarakat Indonesia belum cukup menghargai dan merasa bangga akan produk buatan bangsanya. Potensi besar ini masih belum bisa didayagunakan sepenuhnya sebagai faktor pendorong pertumbuhan industri. Adalah sangat sulit menjual produk-produk buatan dalam negeri ke luar negeri terutama barang modal jika bangsa kita sendiri tidak mau menggunakannya. Besarnya pasar dalam negeri bahkan kurang efektif karena banyaknya barang yang diduga diselundupkan.
Saat ini revolusi industri baru telah terjadi dimana wajah persaingan industri global ditentukan oleh faktor kemajuan teknologi dan inovasi sebagai penentu daya saing. Pergeseran ke arah product customization, intelligent product design, nano technology, composite, dan biological materials, aplikasi teknologi komunikasi dan informasi terbaru pada desain produk industri. Revolusi memperlebar jarak industri Indonesia terhadap negara industri.
Untuk memperkuat struktur dalam tahap pertama harus didorong industri yang mengakar di dalam negeri, berperan besar dalam perekonomian dan penyediaan lapangan kerja, dan mampu mengurangi ketergantungan impor. Dari sisi produk perlu secara ofensif didorong ekspor produk TPT, alas kaki, furnitur, industri makanan, produk agro, CPO dan turunannya, serta produk otomotif dan komponen. Sedangkan yang perlu dipertahankan pasar dalam negerinya meliputi industri kimia, baja, elektronika, agro, makanan dan minuman tertentu, dan farmasi. Tahap selanjutnya perlu ditumbuhkan industri berbasis inovasi seperti pemanfaatan rare earth, kesehatan, material baru, dan energi terbarukan. Sebagai wahana pelaksanaannya, Technopreneurship, sistem insentif, dan spirit Indonesianisme perlu ditumbuhkan.
Industri Otomotif yang sudah berdiri lebih dari 40 tahun di negeri ini perlu didorong sebagai salah satu tiang penunjang perkembangan industri manufaktur. PII dapat berperan banyak dalam pengembangan kemampuan teknologi dan sumber daya tenaga kerja industrial, terutama dalam membangun kemampuan dan penguasaan teknologi serta R&D industri, meningkatkan produktivitas dan kompetensi tenaga kerja industrial.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar